Friday, May 19, 2006



Quo circa vivite fortes/fortiaque adversis opponite pectora rebus

hiduplah dengan tegar dan beranilah menentang hal-hal yang berlawanan dengan hati yang kuat

Laetus sorte tua vives sapienter

hendaknya engkau bergembira hidup dengan nasibmu secara bijaksana
(Horatius)

Wednesday, May 17, 2006

Menanti “Theater Park” dan “Theater Center” di Yogyakarta

Redaktur rubrik puisi di sebuah surat kabar dituduh menjadi penyebab kematian seorang penyair yang telah mengirimkan ratusan puisinya. Sebelum ajal menjemput, sastrawan itu menemukan ratusan kertas puisinya di tong sampah. Ia kehilangan akal karena puisi tersebut tidak pernah dimuat, malah dibuang. Sang nenek, istri penyair, ingin balas dendam karena redaktur itu dianggap menjadi penyebab suaminya mengalami depresi berbuntut pada kematian.
Itulah sepenggal kisah tragikomedi Penyair yang Terbunuh persembahan Teater Yupa Universitas Mulawarman di Gedung Societeit Taman Budaya Yogyakarta dalam Festival Teater Mahasiswa Nasional (Festamasio) 3, September 2006.
Pertunjukan Teater Kampus Se-Indonesia memang menjadi daya tarik tersendiri dalam rangkaian Festamasio 3. Selama lima hari tidak kurang 16 teater dari berbagai kampus di Nusantara menampilkan tontonan yang patut dinikmati dan diapresiasi. Walaupun dari berbagai daerah termasuk luar Pulau Jawa dan dengan dana mepet, setiap kelompok teater menunjukkan keseriusan dalam menggarap cerita. Hal itu setidaknya bisa dilihat dari kematangan setiap pemain dalam menjalankan skenario maupun kostum, properti, make up, tata panggung, tata musik, dan tata cahaya yang dimanajemen dengan baik. Tentunya ini tidak dikerjakan separuh hati.
Namun, dalam setiap pertunjukan, penonton hanya didominasi oleh peserta, beberapa mahasiswa Yogyakarta, masyarakat teater, maupun segelintir warga yang memiliki ketertarikan pada teater. Jarang masyarakat umum dan pelajar mau menyaksikannya. Padahal, pentas tersebut untuk khalayak yang ditandai dengan tiket masuk Rp 3.000. Ini kontra dengan acara lainnya. Setiap ada konser musik atau event olahraga pasti dipadati penonton.
Padahal, dalam sebuah teater, di samping menghibur, juga terdapat pesan/amanat yang dapat dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari. Penonton pun dibiarkan menilai tokoh yang mencitrakan perwatakan masing-masing. Tidak sekadar menambah pengetahuan kognitif, afeksi seseorang semakin terpacu sehingga hati dan jiwanya menjadi terkatarsis.
Dari fenomena tersebut, setidaknya menjadi bahan permenungan bagi teater kampus maupun pelaku teater pada umumnya untuk lebih menyemarakkan kegiatan teater di Yogyakarta dan memikat khalayak di kota budaya ini agar memiliki daya tarik terhadap teater yang selama ini masih asing di masyarakat.
Ada baiknya sanggar-sanggar teater di Yogyakarta memiliki keberanian melakukan pentas produksi secara berkala, misalnya seminggu sekali. Hal ini bisa dimotori oleh kelompok teater kampus maupun pelajar tingkat menengah, bahkan komunitas umum dengan difasilitasi oleh Dewan Kebudayaan baik di tingkat provinsi maupun kota/kabupaten. Apabila pementasan berkala telah berjalan secara reguler meningkat pada penyelenggaraan festival teater baik di tingkat pelajar, mahasiswa, maupun umum. Hal ini sekaligus untuk memacu produktivitas setiap kelompok teater.
Untuk menghilangkan image teater hanya dimonopoli oleh kalangan kampus, pementasan sebuah teater bisa saja melibatkan masyarakat umum. Agar lebih menimbulkan daya tarik, sebaiknya tetap dipilih tempat-tempat pementasan yang mudah diakses oleh khalayak, seperti Taman Budaya Yogyakarta, Bentara Budaya Yogyakarta, Lembaga Indonesia Perancis, dan lain-lain. Atau bahkan di ruang publik terbuka, misalnya di area Monumen 1 Maret, di Alun-alun Keraton Yogyakarta, di lapangan-lapangan kampung, di kompleks perumahan, dan sebagainya. Karena bidikan penonton tidak hanya sebatas mahasiswa/pelajar tetapi juga khalayak, sebaiknya dipilih teater kontemporer dengan tema yang sesuai segmen masyarakat.
Sebagaimana yang dilakukan oleh masyarakat teater di era 1950-1990, hasil penelitian dokumentasi tim peneliti Kalangan Anak Zaman Yogyakarta yang disponsori The Ford Foundation dalam Kepingan Riwayat Teater Kontemporer di Yogyakarta membuktikan bahwa para pendahulu pelaku teater kontemporer di Yogyakarta telah berhasil memasyarakatkan teater baik bagi kalangan kampus, pelajar, maupun masyarakat umum. Pelaku teater kawakan Sumardjono, Sri Murtono, B Sularto, Kridjomuljo, Umar Kayam, WS Rendra, Danarto, Bakdi Sumanto, Arifin C Noor Goenawan Mohammad, Arif Budiman, Darmanto Djatman, Putu Wijaya, Arswendo Atmowiloto, Linus Suryadi AG, Emha Ainun Nadjib, Heru Kesawa Murti, dan lain-lain telah mewarnai pesta teater di Yogyakarta dan menancapkan fondasi teater yang kokoh. Kala itu mereka sering melakukan pentas di Pendapa Kepatihan, di hotel-hotel, di pendapa kabupaten, di museum-museum, di aula sekolah, di auditorium milik kampus-kampus, di Sport Hall Kridosono, Purna Budaya, Karta Pustaka, dan sebagainya. Di tahun-tahun tersebut geliat teater sangat menggembirakan. Banyak diselenggarakan pementasan teater, festival teater pelajar, arisan teater. Bidikan mereka tidak hanya kalangan kampus. Bahkan, di tahun 1968 ada pementasan teater yang khusus dipertunjukkan bagi 200 tukang becak. Jasso Winarto sebagai penggagas ingin menepis anggapan bahwa hanya orang-orang terpelajar saja yang bisa menghargai pementasan teater.
Mungkin saja pelaku teater di Yogyakarta juga mengusulkan ke Pemerintah Kota Yogyakarta agar menjadikan ruang publik di Taman Pintar di kawasan Malioboro yang akan menjadi science park sekaligus sebagai theater park, Kebun Binatang Gembira Loka yang jadi ecology park juga difungsikan sebagai theater park, maupun kawasan Kridosono yang akan diubah youth center bisa dilengkapi dengan theater center. Tidak sulit, pemerintah hanya menyisihkan secuil panggung permanen untuk pementasan, dan mestinya pelaku teater memiliki komitmen untuk produktif.
Bagi pelaku teater, terlepas untung tidaknya sebuah pentas produksi, menampilkan pementasan teater yang mampu menggugah rasa kasih sayang, menghaluskan emosi, mempertajam kepedulian sosial merupakan sesuatu yang mulia untuk dipersembahkan bagi masyarakat di kota yang berhati nyaman ini. Barangkali pula, dengan teater, budaya kekerasan, tidak menghargai orang lain, mental korup dapat dieliminasi. Pun menghibur, apalagi di saat masyarakat dibuat pusing oleh keadaan ekonomi yang semakin semrawut.

Tahun Baru dan Rekonsiliasi Kepatutan

Setiap perayaan pergantian tahun disambut penduduk dunia dengan pesta besar dan tradisi romantisme masa lalu serta harapan ke depan. Tahun baru ini pula kembali meneguhkan kita bahwa sehebat-hebatnya manusia ternyata hidup dalam satu planet yang sama yaitu Bumi.
Yogyakarta, sebagai barometer tujuan wisata setelah Bali, menyambut momentum ini dengan meriah. Sekitar 10.000 wisatawan diperkirakan mengunjungi kota ini (Kompas, 16 Desember 2004). Bahkan, tingkat hunian hotel mencapai lebih dari 90 persen. Disparsenibud telah menyiapkan berbagai kegiatan seni dan budaya untuk menghibur warga dan wisatawan. Juga, tempat-tempat hiburan, kafe, restoran menyajikan menu sajian maupun acara spektakuler. Pergantian tahun senantiasa diwarnai ribuan manusia yang tumpah-ruah di ruas-ruas jalan dengan meniupkan trompet tanda haru campur gembira. Eforia Tahun Baru seakan mampu melupakan segala problematika kehidupan.
Di sisi lain, kaleidoskop media cetak maupun elektronik mengingatkan kembali atas berbagai peristiwa selama setahun berjalan. Krisis multidimensional, dari persoalan politik, ekonomi, budaya, sampai kemerosotan moral, dan rusaknya peradaban bangsa Indonesia, merupakan persoalan zaman yang selalu terulang.
Rentetan peristiwa nasional masih saja diwarnai aksi teror dan peledakan bom yang membawa negeri ini kembali ke titik lemah dalam politik internasional. Krisis ekonomi pada 100 hari masa pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu dihiasi kenaikan drastis harga gas elpiji dan beberapa jenis bahan bakar minyak yang menyulut aksi unjuk rasa di Tanah Air. Kenaikan tersebut menyebabkan gejolak secara signifikan terhadap kondisi sosial masyarakat di daerah-daerah dengan naiknya harga-harga bahan pokok sampai persoalan legitimasi pengambil kebijakan yang diragukan untuk membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Bahkan, kondisi masyarakat semakin memprihatinkan. Pengangguran masih menjadi persoalan krusial yang belum ada penanganan secara optimal. Gaji pegawai di bawah rata-rata, upah minimum provinsi/kabupaten yang jauh dari kebutuhan hidup minimum. Kemiskinan pun semakin meluas.
Di sisi lain, nilai-nilai kemanusiaan tergerus. Kuantitas dan bentuk kriminalitas telah menceraikan manusia dari sifat humanis. Orang semakin mudah bunuh diri hanya karena persoalan ekonomi. Kasus narkoba, HIV/AIDS, kekerasan terhadap perempuan, pembunuhan merangkak ke titik nadir.
Konflik horizontal dan vertikal tersebut mencerminkan perilaku menyimpang dan perwujudan moral yang merosot dan mental yang terganggu. Ironisnya, mengapa hal itu terjadi pada bangsa yang selama ini dikenal oleh orang luar sebagai bangsa yang toleran dan penuh keramahan serta persaudaraan? Kerusakan peradaban bangsa yang akut ini harus terus ditanggulangi agar Indonesia tidak menjadi virus atmosfer dunia dan termajinalkan di tengah pergaulan global.
Aksi moral
Seruan penyadaran telah dipelopori oleh kalangan seniman yang diprakarsai dan didukung tokoh masyarakat lintas golongan dengan aksi moral mendeklarasikan Gerakan Kepatutan Indonesia. Deklarasi Kepatutan mengimbau, mengajak, dan mendesakkan seluruh elemen masyarakat untuk secara bersama-sama menegakkan nilai-nilai kepatutan dengan mengedepankan penerapan nilai-nilai keteladanan, pluralis, kesetaraan dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
WS Rendra, seniman dan budayawan yang tergabung dalam Forum Indonesia Patut (FIP), menyatakan bahwa nilai-nilai kepatutan semakin ditinggalkan dalam kehidupan bermasyarakat bangsa Indonesia (Kompas, 1 Desember 2004).
Seruan tinggal seruan hampa manakala setiap anak bangsa tidak memiliki kepedulian. Jawaban terhadap persoalan bangsa ini sebenarnya kembali kepada diri masing-masing. Bagaimana penyikapan atas kapasitas kita sebagai manusia? Apa arti kita di dalam kosmos?
Ada baiknya, di tengah hiruk pikuk pesta Tahun Baru, kita berefleksi dan merekonsiliasi kembali nilai-nilai kepatutan. Kepatutan terhadap Sang Pencipta; kepatutan terhadap manusia, baik itu terhadap diri pribadi, keluarga, masyarakat, maupun dalam bernegara; dan kepatutan terhadap alam semesta.
Moral terhadap Tuhan dengan menyembah dan taat. Bahwa, kita adalah pemimpin sekaligus pelayan atas penciptaan semesta ini. Walaupun, keagungan-Nya tak akan berkurang karena tidak disembah sekalipun.
Kepatutan terhadap manusia, kita kembalikan kepada eksistensi sebagai manusia. Sokrates (470-399 SM) pun telah mengajak manusia untuk memerhatikan diri sendiri agar sadar akan dirinya sendiri dengan kata hikmahnya Gnothi Seantho (kenalilah dirimu). Moral diri pribadi adalah pemenuhan kewajiban manusia terhadap dirinya sendiri. Bagaimana ia harus jujur, dipercaya, sikap sopan, santun dan tangguh. Apabila di tingkat bawah—masing-masing dari penduduk Indonesia—memiliki hal demikian, otomatis moralitas bangsa terbangun dengan sendirinya. Seruan kepatutan tidak ada artinya jika masing-masing orang tidak membuka mata hati dan kesadaran untuk menyerukan moral terhadap dirinya sendiri.
Moral terhadap keluarga dengan menciptakan hubungan keluaga yang harmonis. Keluarga merupakan institusi terpenting dalam menegakkan moralitas bangsa. Bagaimana seorang pemimpin bangsa akan mampu menjalani tugas negara manakala keluarganya sendiri amburadul?
Manusia adalah makhluk sosial yang hidup berkelompok dan melahirkan komunitas masyarakat manusia. Moral terhadap masyarakat dengan jalan toleransi dalam perbedaan dan kerja sama dalam persamaan. Penyadaran lintas suku, agama, ras untuk menyerukan kedamaian dengan mengabaikan ekstrimisme maupun fundamentalisme. Siapa pun kita pasti menginginkan tatanan masyarakat dengan rasa persaudaran yang erat dan harmonis, tidak saling menghina dan memusuhi.
Moral bernegara dengan menciptakan hubungan pemerintah dengan rakyat. Rakyat berhak untuk hidup layak di negerinya sendiri, pemerintah berkewajiban untuk memakmurkan bangsa. Tidak melulu memanfaatkan jabatan sebagai kesempatan memperkaya diri. Dan, moral terhadap alam dengan memanfaatkan potensi alam untuk kepentingan hidup manusia.
Riuh rendah trompet peralihan tahun kembali menyadarkan bangsa Indonesia membuka lembaran baru. Tahun baru dan harapan baru untuk Indonesia baru. Dengan pongahnya, waktu terus berputar laksana pedang yang siap membunuh. Persoalannya, maukah kita (bangsa Indonesia) keluar dari krisis multidimensional? Akankah, tahun ini lebih baik dari tahun lalu? Dan, tahun depan akan lebih baik dari tahun ini?

Ironi ”Halte” Sampah di Dekat Sekolah

Masyarakat dan persoalan sampah pada galibnya merupakan konsekuensi logis atas stigma warga yang masih menganggap sampah sebatas sesuatu yang harus dibuang dan paradigma pemerintah setempat yang berprinsip pengelolaan sampah sekadar rutinitas. Namun, sekolahan dan timbunan sampah merupakan fenomena krusial di kota pelajar ini yang semestinya mendapatkan penanganan serius.
Ironis memang. Lingkungan sekolah yang seharusnya kondusif sebagai sarana pedagogis untuk transformasi ilmu malah terkena imbas dalam soal persampahan dengan adanya tempat pembuangan sementara (TPS) sampah di kompleks sekolah.
Sebut saja SMA Negeri 9 Yogyakarta. Betapa asri lingkungan sekitar sekolah yang berkompleks di Sagan, Yogyakarta, ini. Setiap akses jalan menuju sekolah dihiasi pepohonan yang memberikan nuansa sejuk dan elegan. Tepat di depan sekolah terdapat sebuah lapangan basket. Sayangnya, lapangan dengan latar belakang gedung SMA yang gagah tersebut dikotori oleh pemandangan timbunan sampah di TPS sampah Sagan, persis di sisi kiri lapangan. Padahal, tempat itu sering digunakan berolahraga oleh warga SMAN 9, SD Muhammadiyah Sagan, maupun umum. Otomatis, siswa yang berolahraga sering mencium bau busuk dari sampah basah maupun luberan sampah cair hingga ke badan Jalan Candrakirana, yang makin menebarkan aroma busuk sampai radius beberapa meter. Kondisi tersebut diperparah dengan banyaknya lalat yang menghinggapi makanan dan minuman di warung-warung tenda terbuka di sekitarnya. Padahal, setiap istirahat sekolah banyak siswa mengudap di situ.
Ada lagi TPS sampah yang ”unik”. TPS di ruas Jalan AM Sangaji tersebut diapit oleh SMKN 2 Yogyakarta di sisi barat dan deretan SD Tumbuh, SMAN 11 Yogyakarta, serta SD Jetisharjo I dan II di timur jalan provinsi itu. SDN Langensari di Jalan Kusbini 35, Gondokusuman, Yogyakarta, malah satu pekarangan dengan TPS Klitren. Di bantaran Kali Mambu, tepatnya di depan kampus Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, pun ada TPS sampah.
Efek dominan TPS-TPS sampah tersebut tidak jauh berbeda dengan di SMAN 9 Yogyakarta. Pemandangan tidak sedap, udara sekitar yang terkontaminasi, bau busuk sampah, sampah berceceran, hingga serbuan lalat menjadi konsumsi saban hari.
Pola penanganan sampah di dekat beberapa tempat wiyata tersebut sungguh tidak ramah lingkungan. Bak beton maupun bata dengan lebar rata-rata 15 x 10 meter mempunyai ketinggian yang kerap dikalahkan oleh volume sampah. Apalagi, bak-bak tersebut tidak berpintu yang bisa dibuka-tutup.
Bahkan, di SDN Keputran I yang bersebelahan dengan SDN Keputran IV dan SDN Keputran VII, Panembahan, Kraton, Yogyakarta, terdapat TPS sampah dengan pola penanganan sekadar menggunakan kontainer berupa bak kayu. Otomatis puluhan kontainer kecil hilir-mudik di lingkungan itu. Padahal, areal tersebut juga merupakan tempat parkir wisatawan luar provinsi, yang kebanyakan pelajar. Dengan kondisi itu, lazim terlihat panorama Alun-alun Utara yang dipenuhi anak-anak SD sedang jajan, bermain di lapangan dan aktivitas wisatawan berpadu dengan kegiatan bongkar muat sampah.
Walaupun tidak mendapatkan penolakan langsung dari warga sekolah dan masyarakat sekitar, seyogianya pemerintah peduli atas lingkungan yang terkena imbas TPS-TPS sampah tersebut.
Solusi minimal yang mesti diterapkan oleh Dinas Kebersihan, Keindahan, dan Pemakaman melalui pemeliharaan kontinu dan meredesain pola penanganan sampah baik bagi TPA/TPS sampah legal maupun TPA/TPS sampah ilegal di Yogyakarta. Model TPS Mergangsan di samping kantor Badan Informasi Daerah, Jalan Brigjen Katamso, kiranya bisa dijadikan acuan. TPS sampah tersebut dilengkapi pintu berterali setinggi bak sehingga sampah dan baunya bisa dilokalisasi.
Solusi maksimal yang perlu dipikirkan pemerintah yaitu relokasi ke tempat yang jauh dari lingkungan sekolah ataupun daerah yang netral dari aktivitas manusia. Bukankah hal yang lebih mungkin memindahkan “halte” sampah tersebut ketimbang gedung sekolahnya?
Pelajar adalah generasi bangsa yang diharapkan memiliki integritas serta sehat jasmani dan rohani. Sekolah merupakan institusi kedua setelah keluarga untuk memanifestasikan kepribadian tersebut. Sungguh ironis apabila proses transformasi itu terkontaminasi oleh bau sampah dan lalat yang menginvestasikan penyakit ke tubuh mereka.

Didik Durianto
Peminat masalah sosial pendidikan, tinggal di Yogyakarta

(Kompas, 17 Mei 2006)

”Quo Vadis” Sinetronisasi Karya Sastra?

Ria memuji kepiawaian vokal Syamsul Bahri. Sitti pun cemburu. Dari dalam mobil, matanya sayu menyaksikan kemesraan mereka. Bagi Sitti, gadis yang selalu keren dengan rambut direbonding, cintanya kepada Syamsul sebagai everlasting of love. Di sisi lain, si raja garang Datuk Maringgih mulai melancarkan strategi menghancurkan bisnis ayah Sitti, Sutan Sulaiman, yang tampan dan selalu berpakaian eksekutif.
Itulah potongan sinetron Sitti Nurbaya pada episode awal yang ditayangkan salah satu stasiun televisi swasta nasional. Tampak sekali pencitraan tokoh-tokoh yang borjuis dengan latar belakang kontemporer dibandingkan cerita asli roman Sitti Nurbaya karya Marah Rusli yang sarat nilai adat istiadat dan norma budaya.
Warna lain dari sinema elektronika masa kini versi tahun 2005 melalui adaptasi kisah-kisah legenda. Bawang Merah Bawang Putih dikemas macho. Sosok Bawang Putih, yang identik berpakaian kumuh dan kotor, di sinetron tersebut justru dibikin modern, bersih, cerdas, dan cantik. Malin Kundang, cerita yang sering diamanatkan kepada anak-anak agar tidak mendurhakai orang tua, juga telah dipoles. Wajah-wajah cantik, kehidupan glamor, romantisme cinta masih saja menjadi napas sinetron tersebut.
Bagi pemirsa awam, sinetron itu terasa menarik untuk dinikmati sebagai hiburan, tanpa memedulikan nilai di dalamnya. Namun, bagi pemirsa yang kritis, tentu saja tren sinetron berbau tradisional tersebut memunculkan banyak kritik. Tidak mendidik, menjual mimpi, bernilai kekerasan, pergaulan bebas merupakan kritikan yang umum untuk semua jenis sinetron. Akan tetapi, kritik yang menyatakan bahwa sinetronisasi karya sastra (dengan adaptasi secara frontal) memunculkan pencitraan buruk terhadap karya aslinya, memupus imajinasi para siswa dan menimbulkan penafsiran serta apresiasi yang seragam akan sebuah karya sastra dalam pengajaran sastra di sekolah, mengakibatkan salah tasfir bagi generasi muda mendatang tentang kisah yang terkandung dalam karya tersebut, dan menjungkirbalikkan tatanan nilai dan norma budaya perlu ditanggapi serius oleh pihak perusahaan produsen sinetron (produser maupun penulis naskah) dan perusahaan pemesan sinetron (stasiun televisi), bahkan pihak perusahaan pemasang iklan.
Sinetron-sinetron di atas bisa kita lihat di beberapa stasiun televisi swasta nasional yang notabene merupakan stasiun televisi papan atas dan sudah puluhan tahun berdiri. Sayangnya, lagi-lagi strategi tersebut hanya mengejar pemenuhan budaya populer dan sebagai mesin kapitalisme untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya, tetapi di sisi lain menghancurkan nilai-nilai budaya tradisional. Alih-alih berperan-serta meningkatkan geliat sastra di Nusantara, dalam setiap pernyataan, penyuguh—baik pihak industri sinetron maupun industri televisi—selalu menyatakan sah-sah saja memodernisasi karya sastra lama daripada lambat laun dilupakan orang.
Fenomena sinetronisasi karya sastra ujung-ujungnya bermuara pada komersialisasi melalui target penjaringan iklan dan pencapaian audience rating dengan memasuki kawasan kebudayaan tradisional. Sebagaimana dinyatakan Muh Labib dalam Potret Sinetron Indonesia: Antara Realitas Virtual dan Realitas Sosial (2002) bahwa tayangan sinetron di layar kaca merupakan sebuah pertarungan antara dua kekuatan sosial yang dominan—modal ekonomi (economy capital) dan modal kebudayaan (cultural capital). Namun, mainstream (arus besar) sinetron saat ini menunjukkan bahwa kedua kekuatan dominan dalam ruang sosial layar kaca itu tidaklah berdampingan di sebuah wilayah otonomi. Kenyataannya, modal ekonomi mendominasi wilayah pemilik modal kebudayaan.
Tren sinetronisasi karya sastra sebenarnya telah dipelopori TVRI sejak tahun 1991. Kala itu, Sitti Nurbaya ditayangkan berseri. Disusul kemudian Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan Sati. Sinetron tersebut diadopsi sesuai isi yang tersurat dalam roman, dengan mempertahankan keaslian konteks dan setting cerita sehingga terkemas apik sebagai visualisasi karya sastra. Khalayak menyambut baik sebagai upaya memasyarakatkan sastra dan mensastrakan masyarakat. Sedangkan sinetron berbasis subkultur dan masyarakat kelas bawah dengan mengusung tema kemanusiaan, moral, maupun keluarga telah diwakili Keluarga Cemara-nya Arswendo Atmowiloto maupun Si Doel Anak Sekolahan (dari novel Si Doel Anak Betawi karya Aman Dt Madjoindo) yang mendapat simpati sebagai sinetron fenomenal dan representasi karya susastra sehingga enak ditonton dan memuat falsafah hidup.
Diawali dari Yogya
Wacana global sinetronisasi karya sastra kiranya dapat menjadi masukan bagi rumah produksi maupun pemilik media lokal di Yogyakarta untuk membuat formula yang mampu mempertemukan antara kepentingan menjaring keuntungan dengan kepentingan memelihara norma sosial dan budaya. Apalagi, Yogyakarta merupakan salah satu pilar dan penjaga gawang kebudayaan tradisional. Semestinya, peran televisi lokal mampu mendukung citra Yogyakarta sebagai kota pendidikan dan kota budaya.
Di Yogyakarta sendiri terdapat beberapa stasiun televisi. TVRI Stasiun DIY sebagai televisi pemerintah yang berdiri sejak 1965 memiliki misi mengangkat citra lokal meliputi adat istiadat, sejarah, kondisi sosial, pendidikan. RBTV memiliki slogan ”Asli Jogja” dengan mengedepankan nilai-nilai asli masyarakat Yogyakarta (original value) seperti ramah, sopan, humoris, sekaligus cerdas. Jogja TV dengan moto “Tradisi Tiada Henti” membasiskan program pada budaya lokal dan mengacu kepada idealisme Keraton Yogyakarta serta mendukung penciptaan iklim cinta budaya sendiri dan melestarikan tradisi adiluhung. Tugu TV dengan moto “Pokek’e Well” senantiasa berusaha menyuguhkan nuansa lokal dengan kemasan menarik.
Mampukah mereka bertahan dengan idealisme masing-masing? Ke arah mana penayangan entertainment televisi lokal tersebut? Akankah slogan-slogan tersebut akan runtuh gara-gara terkontaminasi dan meniru tren selama ini yang menganggap sinetron sebatas barang dagangan yang mampu menciptakan keuntungan?
Berawal dari Yogyakarta, mungkin saja rumah produksi dan televisi lokal memelopori membuat kembali sinetron transkultur. Banyak karya sastra tradisional (baik itu sastra Indonesia pada umumnya maupun karya sastra lokal khususnya) yang layak diaktualisasikan. Di samping juga tantangan bagi penulis naskah (sastrawan) untuk menghasilkan karya sastra yang estetis dan etis di tengah maraknya novel populer di Yogyakarta.
Adalah ide yang baik mensinetronkankan karya sastra, baik itu sastra lama-pertengahan-baru dalam segala bentuknya, dengan tetap mempertahankan konteks asli cerita agar generasi mendatang memiliki pemahaman penuh atas karya sastra tersebut. Di samping kemasan sinetron transkultural sebagai pilihan alternatif dari sekian banyak model sinetron kekinian, juga sebagai bargaining power tayangan sinetron yang lebih edukatif. Tentu saja kembali kepada pihak penghibur (stasiun televisi) untuk tidak sekadar mengejar rating semata. Bukankah akan lebih arif ketika mengejar keuntungan dari sinetron, juga diikuti misi menyosialisasikan karya sastra Indonesia dan memvisualkan dalam layar kaca agar masyarakat Indonesia terkartarsis jiwa dan moralnya.

Didik Durianto
Alumnus PBSID FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta
Tinggal di Yogyakarta

Kompas (19 Januari 2005)
Free Web Counter
gayung bersambut